by

Itik Panggang Alabio Khas Amuntai, Berbeda Dengan Daerah Lain

Itik Panggang Alabio Khas Amuntai, Berbeda Dengan Daerah Lain

Perdananews Kalsel – Selain menghasilkan Telur yang berbeda dengan Itik lainnya, Itik Alabio juga sering dibuat olahan kuliner. Ingin tau bagaimana rasanya itik panggang Alabio khas Amuntai? Simak yuk

Dari bandara Syamsuddin Noor di Banjarbaru, butuh waktu 4-5 jam untuk sampai ke Amuntai (Ibukota HSU) dengan jalan darat, selama perjalanan, kita juga bisa singgah dibeberapa destinasi wisata umum, juga destinasi wisata religi yang dilewati. Misalnya di Kab.Banjar, Kubah (makam) Guru Sekumpul di Martapura, Kubah Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan) di Desa Kalampayan, setelah itu di Kab.Rantau (Tapin) ada makam Datu Sanggul, Datu Nuraya, Datu Gadung dan Datu Qabul, Kemudian di Hulu Sungai Selatan (Kandangan) Makam Habib Abu Bakar (Habib Lumpang), selepas kota Kandangan, kita berbelok ke pantai Hambawang setelah itu danau panggang. Disini ada destinasi wisata unik, yaitu kerbau rawa. Aktivitas sehari-hari binatang ini ada di rawa, setelah danau panggang barulah kita sampai di Amuntai.

Baca Juga Enam Destinasi Wisata Banjarbaru yang Perlu Kamu Ketahui

Memang perjalanan panjang ini cukup melelahkan namun, rasa lelah itu akan terbayar ketika kita merasakan lezatnya kuliner yang terbuat dari daging itik Alabio.

Menurut DR.Rini Fajarwati, drh., M.Vet Itik Alabio adalah bangsa itik khas yang merupakan plasma nutfah asli Indonesia khususnya di daerah perkembangbiakan alaminya di Kabupaten HSU.
“Jadi Itik Alabio tidak bisa diklaim oleh daerah lain apalagi negara luar dengan bukti sidik jari DNA ini,” kata Rini

Hal tersebut dikuatkan oleh Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2921/Kpts/OT.140/6/2011 tanggal 17 Juni 2011, yang menyatakan bahwa Itik alabio merupakan salah satu rumpun itik lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di Provinsi Kalimantan Selatan.

Itik Alabio bisa dijadikan berbagai macam olahan, antara lain itik panggang tanpa tulang, dendeng itik, dll.

Tidak seperti di daerah lain, Itik Alabio ini mempunyai ciri dan rasa khas tersendiri. Ciri khas Itik Panggang Tanpa Tulang ada pada dua hal. Pertama, warung hanya memanggang dan menyajikan daging itiknya saja, persis seperti namanya itik panggang tanpa tulang. Selain itu, itik panggang di Amuntai selalu disajikan di atas piring dengan kuah kecap yang sudah diolah dengan bumbu. Kuahnya banyak, biasanya sampai menenggelamkan itiknya.

Kedua, itik panggang ini selalu disajikan bersama semangkuk sup. Sup ini istimewa karena seperti soto banjar, sup yang memiliki cita rasa yang berbeda dengan sup yang terdapat di daerah lain. Bedanya, rasa sup ini lebih kuat pada cita rasa asin, kaldu, dan daun sup nya dibanding dengan sup yang biasa kita temui.
Kebayangkan, nikmatnya olahan Itik Alabio?

(PN/DB)

PERDANANEWS