by

Ma’ruf Amin: Aktivitas Pasar Muamalah Merusak Ekonomi Nasional

Ma’ruf Amin: Aktivitas Pasar Muamalah Merusak Ekonomi Nasional

Perdananews Kalsel – Ma’ruf Amin mengatakan, Aktivitas Pasar Muamalah merusak ekonomi dan keuangan nasional. Pasalnya transaksi jual beli yang dilakukan menggunakan Dinar dan Dirham. Hal ini tidak sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang sudah disepakati berlaku di Indonesia.

“Tujuannya mungkin untuk menegakkan pasar syariah, tetapi kan kita ada mekanisme dalam sistem kenegaraan kita. Sehingga, ketika itu kemudian ada suatu (praktik ekonomi) di luar itu, tentu itu akan merusak ekosistem daripada ekonomi dan keuangan nasional kita,” kata Mantan Ketua MUI ini dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Kendati demikian praktik ekonomi di Pasar Muamalah tidak bisa disebut sebagai kegiatan untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Di Negara Kita, ekonomi dan keuangan syariah dijalankan sebagai bagian dari upaya penguatan sistem ekonomi nasional. Sehingga, kegiatan Pasar Muamalah yang bertransaksi menggunakan mata uang selain rupiah termasuk bentuk penyimpangan dari sistem keuangan nasional, tegas Wapres.

“Perbankan syariah di Indonesia ada aturannya, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ada aturannya dan undang-undangnya ada aturan pelaksanaannya, bahkan ada juga fatwanya dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI),” jelasnya.

Baca Juga Dinar dan Dirham jadi alat transaksi, Pendiri Pasar Muamalah ditangkap

Pasar Muamalah, yang didirikan oleh Zaim Saidi (59) yang juga sebagai Amir Wakala Nusantara ini berada di Jalan Tanah Baru, Depok. Tidak seperti pasar pada umumnya, dimana lokasinya luas, dan banyak orang yang berjualan di dalamnya. Pasar Muamalah hanyalah sebuah ruko milik seorang warga.

Pasar ini buka hanya dua pekan sekali, setiap hari Ahad, jam bukanya pun terbatas mulai pukul 07.00-11.00 WIB.
Dalam kegiatan jual dan beli yang dilakukan, menggunakan mata uang dirham dan dinar dalam setiap transaksinya.

Selain itu, biaya sewa tempat bagi pedagang yang berjualan di pasar tersebut juga menggunakan mata uang Arab Saudi.
Pedagang yang tergabung dalam Pasar Muamalah menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, minuman dan pakaian dengan menggunakan uang Dinar dan Dirham.

Dinar yang digunakan dalam transaksi di pasar tersebut berupa koin emas seberat 4,25 gram dan emas 22 karat; sedangkan dirham yang dipakai berupa koin perak murni seberat 2,975 gram.

Hari Selasa (2/2) Polisi menangkap Zaim Saidi dalam hal ini pendiri Pasar Muamalah, menjadikannya sebagai tersangka atas dugaan pelanggaran pasal 9 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana dan pasal 33 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, dengan ancaman hukuman satu tahun penjara dan denda Rp200 juta.

Dirangkum dari berbagai sumber, Zaim Saidi lahir di Temanggung, Jawa Tengah pada 21 November 1962. Dia merupakan alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pada 1996 Zaim Saidi menerima Merdeka Fellowship dari pemerintah Australia yang dimanfaatkan untuk studi banding perlindungan konsumen serta menempuh S2 Public Affairs di Department of Government and Public Administration di University of Sydney, Australia.

(Ant/PN)
Editor DB

PERDANANEWS