Tetap Menjalankan Ibadah Meskipun Kita Mengalami Musibah


Oleh Danang Wisaksono*

Perdananews Kalsel – Menjalankan Ibadah adalah kewajiban semua mahluk-Nya, terutama Jin dan Manusia.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Dalam kondisi apapun, Kita harus tetap menjalankan ibadah, termasuk ketika mengalami musibah, karena tidak ada istilah cuti dalam menjalankan ibadah.

Allah mempunyai Hak Prerogatif untuk memberikan musibah itu, kepada siapa yang dikehendakiNya. Semua musibah yang terjadi di muka bumi adalah kehendak Yang Maha Kuasa, yang sudah ditetapkan maka akan terjadi.
Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs.At Taghabun : 11)

Sedangkan Ibadah adalah kewajiban HambaNya yang harus dilakukan sampai takdir kematian menjemputnya.

Ketika mendapatkan sebuah musibah, tidak jarang kita bersu’udzhon kepada Allah SWT. Menganggap apa yang terjadi adalah buruk buat kita, buat keluarga, padahal prasangka tersebut tidak berdasar.
“……… Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS.2:216)

Ada Hikmah yang tersembunyi dalam sebuah peristiwa termasuk musibah, tinggal bagaimana kita, apakah bisa mencari hikmah itu dan mengelolanya dengan baik.

Bagi Ulil Albaab (orang-orang berakal) mereka akan selalu berfikir tentang sesuatu yang terjadi, termasuk musibah.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka“. (QS. Ali ‘Imran : 191)

Allah tidak menurunkan penyakit kecuali ada obatnya, begitu pula dengan musibah, tidak ada musibah yang tidak ada solusinya kecuali musibah kematian.
Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan obat untuknya.” (HR. Ibn Majah dan dishahihkan al-Albani)

Artinya musibah yang saat ini dirasakan oleh sebagian umat Islam di Indonesia, sebenarnya dapat dihindari dengan:

Pertama Berdoa (Ikhtiar)
Doa adalah senjata orang-orang mukmin, bagaimana mungkin musibah akan hilang, jika kita tidak pernah menggunakan senjata itu untuk memohon, meminta, bahkan merintih kepada Allah SWT, padahal jelas sekali manfaat doa bagi umat islam.

Tidaklah seorang muslim yang berdoa, dan doanya tidak berisi perbuatan dosa atau memutus silaturahim, kecuali Allah akan memberikan salah satu di antara tiga balasan: (1) Allah kabulkan doanya, (2) Allah hindarkan dirinya dari musibah yang senilai dengan isi doanya, dan (3) Allah simpan dalam bentuk pahala untuknya di akhirat.” (H.R. Ahmad, Turmudzi, dan Hakim; dinilai sahih oleh Musthafa Al-Adawi)

Dalam Al Qur’an juga disebutkan “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (permintaan) bagimu… (QS. Al Mukmin : 60)

Kedua dengan Tawakal (pasrah yang optimal)

Dalam hadis riwayat at-Tirmidzi disebutkan, pada zaman Rasulullah SAW ada seorang laki-laki ingin meninggalkan untanya di depan masjid tanpa diikat, dengan alasan ia bertawakal kepada Allah SWT. Ketika hal itu diketahui Rasulullah SAW, beliau mengatakan, “Ikatlah untamu lebih dahulu, kemudian bertawakal.”

Baca Juga Pemerintah Saudi akan Membuka Kembali Layanan Umrah Secara Bertahap

Sebuah contoh yang baik, terjadi di tempat pengungsian korban banjir di Kalsel, beberapa hari lalu.

Pada saat itu relawan memulai membagikan pakaian layak pakai, tiba-tiba ada seorang pengungsi yang bertanya kepada relawan, adakah Mukena dan Sajadah dalam kantong yang ikam (anda) bawa? Biar kami tidak dapat baju yang bagus, asal kami dapat mukena dan sajadah, itu cukup.

Kalau tidak ada sajadah dan mukena, bagaimana kami bisa sholat? Kata Pengungsi tadi.

Sungguh, tetap melakukan ibadah ditengah musibah adalah sesuatu yang berat dilakukan, kecuali bagi orang-orang yang sudah “paham” bahwa ibadah adalah kewajiban Madal hayah (sepanjang hidup).

Karena itu marilah kita tetap menunaikan ibadah meski kita ikut menjadi korban dalam musibah, karena bisa jadi Allah merindukan rintihan kita, menunggu doa-doa panjang kita, menunggu air mata penyesalan kita.

Jangan pernah berputus asa, sebab itu merupakan senjata iblis yang sengaja dipasang untuk menjauhkan kita dengan Sang Pencipta.

Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS az-Zumar: 53- 54).

Satu hal lagi yang perlu direnungkan untuk kita semua bahwasanya ujian berupa musibah apapun itu, adalah untuk mengukur kualitas keimanan kita.

Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga? Padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kesulitan dan kesempitan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al Baqarah : 214)

Wallahu a’lam.

*Kabiro Perdananews Kalsel

PERDANANEWS