by

Pilkada Kota Tangsel Sebuah Pertarungan Gengsi antar Pasangan Calon

Pilkada Kota Tangsel Sebuah Pertarungan Gengsi antar Pasangan Calon

Oleh Irfan Enjo
Analis Politik Gasspoll Institut

Pendaftaran bakal calon kepala daerah Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel) KPUD sudah ditutup, drama tentang konfigurasi perebutan tiket partai politik sudah selesai, publik tinggal menunggu tahapan-tahapan selanjutnya.

Pilkada Kota Tangsel menarik, karena tiga pasang calon yang mendaftar terkait keluarga orang-orang penting dalam dunia politik. Pasangan Siti Nur Azizah Ma’ruf-Ruhamaben yang diusung oleh Demokrat, PKS dan PKB (total 17 kursi), Siti Nur Azizah adalah anak dari Wakil Presiden Kyai Ma’ruf Amin.

Pasangan Muhammad-Saras diusung oleh 9 partai; PDI Perjuangan, Partai Gerindra, PSI, PAN, Hanura, Partai NasDem, Perindo (non-parlemen), Partai Garuda (non-parlemen), dan Partai Berkarya (non-parlemen) (total 23 kursi), Saras atau Rahayu Saraswati Djojohadikusumo berasal dari keluarga besar Prabowo Subianto Ketua Umum Gerindra, Saras adalah anak dari Hashim Djojohadikusumo Hashim.

Sedangkan pasangan Benyamin-Pilar diusung Partai Golkar (total 10 kursi) dan PPP-PBB partai non-parlemen serta Partai Gelora, Pilar Saga Ichsan adalah keponakan Airin Rachmi Diany Walikota Tangsel dan juga anak dari Ratu Tatu Bupati Kabupaten Serang.

Tiga pasang calon di Pilkada Tangsel ini membawa nama besar kelurga masing-masing, apakah ini akan menjadi sekedar perang gengsi?

Tangsel adalah kota dengan jumlah penduduk di atas satu juta, sebagai kota penyangga ibukota Jakarta, Tangsel punya peran strategis dalam banyak hal. Putaran dan pertumbuhan ekonomi Kota Tangsel cukup baik, keberhasilan pembangunan infrastruktur yang dibangun 10 tahun terakhir cukup memberikan peran signifikan terhadap ibukota Jakarta. Melihat situasi ini maka Pilkada Kota Tangsel adalah momentum menentukan pemimpin yang mampu melanjutkan keberhasilan pembangunan Kota Tangsel oleh Walikota sebelumnya, jika Pilkada Tangsel hanya sekedar perang gengsi maka warga Kota Tangsel bisa jadi tidak mendapat manfaat apa-apa.

Pasangan Benyamin-Pilar adalah pasangan yang secara pengalaman bisa dipastikan sanggup memikul beban untuk melanjutkan pembangunan Kota Tangsel ke depan, maka kemenangan pasangan Benyamin-Pilar menjadi harapan warga Kota Tangsel. Apalagi pasangan Benyamin-Pilar hanya diusung oleh satu partai di parlemen, tiga partai lainnya adalah partai non-parlemen, hal ini membuat pasangan Benyamin-Pilar tidak terlalu punya beban politik ketika nanti memimpin Kota Tangsel.

Pasangan Benyamin-Pilar memulai langkah awal yang cukup strategis, yaitu merangkul Partai Gelora masuk dalam koalisi pendukungnya. Walaupun partai baru, Partai Gelora Indonesia banyak diisi oleh mantan politisi PKS yang cukup banyak memahami “dapur” strategi PKS, sehingga strategi Nur Azizah-Ruhamaben dalam Pilkada Kota Tangsel ini kartu trufnya sudah di pegang Partai Gelora.

Tim pemenangan Benyamin-Pilar harus mengoptimalkan peran-peran Partai Gelora dalam strategi pemenangan terutama dalam eksekusi lapangan, karena disinilah pertempuran perebutan suara yang sesungguhnya. Apalagi dalam banyak prediksi survei elektabilitas pasangan Nur Azizah-Ruhamaben walaupun diurutan ketiga tetapi jaraknya tipis dengan pasangan Muhammad-Saras, sedangkan pasangan Benyamin-Pilar masih diurutan pertama. Pasangan Nur Azizah-Ruhamaben dengan mesin kader PKS yang militan dan didukung lobby-lobby elit dari Partai Demokrat bukan tidak mungkin menyalip elektabilitas Muhammad-Saras dan bisa mengejar elektabilitas Benyamin-Pilar.

Kemenangan pasangan Benyamin-Pilar adalah harapan untuk melanjutkan pembangunan Kota Tangsel, apakah Tim Sukses Benyamin-Pilar bisa mewujudkannya?

PERDANANEWS